95 Persen Situs Berusia 1000 Tahun telah Dihancurkan

Jakarta, NU OnlinePara pecinta warisan sejarah Islam dan sebagian warga lokal Saudi Arabia terkejut dengan banyaknya warisan sejarah di Makkah dan Madinah yang telah dibuldoser,

Mengenal Almarhum KH Cholil Bisri

Kiai Cholil Kiai NU dari Jawa Tengah yang sangat disegani. Dalam dirinya terdapat sosok seorang yang bukan hanya benar-benar kiai, tetapi juga penulis, politisi, dan sekaligus seorang sufi. Keluarga besarnya adalah kiai-kiai besar dan para penuli…

Soal Membaca, Gus Dur miliki kekuatan luar biasa

Kudus, NU OnlinePresiden keempat RI KH.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki kekuatan membaca yang luar biasa. Gus Dur adalah  sosok tauladan yang mampu menjadi inspirasi dalam pengembangan  nilai-nilai karakter.

PBNU Diundang Pemerintah Saudi untuk Kembangkan Dunia Islam

Jakarta, NU OnlineKunjungan PBNU ke Pusat Pemerintahan Arab Saudi dua bulan mendatang tidak membahas isu pemekaran Masjid Nabawi yang mencakup pembongkaran makam Rasulullah. Menurut KH Malik Madani, pertemuan tersebut tidak berhubungan dengan rumor pe…

Recent Articles:

Awali Lakmud, IPNU Jakbar Gelar Lomba Cerdas Cermat

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Jakarta Barat, NU Online
Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jakarta Barat menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) yang diawali dengan lomba cerdas cermat PD/PRT IPNU, Senin-Selasa (21-23/4). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anak cabang pelajar NU yang ada di Jakarta Barat.

Juara pertama lomba cerdas cermat ini diraih PAC IPNU Cengkareng. Sementara juara keduanya, PAC IPNU Kebon Jeruk. Juara ketiganya, PAC IPNU Kembangan.

“Lomba ini digelar agar seluruh pengurus IPNU baik di tingkat ranting sampai cabang Jakarta Barat mengerti dan patuh pada PD/PRT yang disahkan saat Kongres IPNU terakhir,” kata Ketua PC IPNU Jakbar Nahraji Zen.

Puncak Lakmud diadakan pada Selasa (22/4). Pelatihan ini merupakan momentum yang ditunggu-tunggu kader IPNU. Karena, kata Nahraji, pengurus anak cabang IPNU khususnya se-Jakbar bisa meningkatkan kualitas mereka dalam berorganisasi. (Yudhi Permana/Alhafiz K)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

100 Santri Dilatih Mengolah Jamur Tiram

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Probolinggo, NU Online
Sedikitnya 100 santri dari empat pesantren belajar mengolah jamur tiram di pesantren Miftahul Ulum desa Jatiurip Krejengan, Probolinggo, Rabu (23/4). Ditemani Dinas Perindustrian dan Perdagangan Probolinggo, mereka mencoba membuat produk bernilai ekonomis dari bahan jamur tiram.

Mereka antara lain datang dari pesantren Miftahul Ulum Krejengan, pesantren Bahrul Ulum Besuk, pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan, dan pesantren Ummul Quro’, Bantaran.

“Pelatihan olahan jamur tiram ini bertujuan meningkatkan keterampilan kaum santri dalam membuat aneka olahan dari jamur serta menambah ilmu dan wawasan. Mereka diharapkan dapat membangun usaha seperti membuat macam aneka olahan jamur untuk meningkatkan perekonomian,” kata Kepala Disperindag Probolinggo Hj Erlin Setiawati.

Erlin mengharapkan para santri setelah lepas dari pesantren mempunyai modal keterampilan. Paling tidak, setelah lulus mereka tidak hanya menguasai ilmu agama namun juga memiliki keterampilan dan keahlian.

“Ini merupakan salah satu upaya yang kami lakukan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi pesantren dengan mengolah sumber daya yang tersedia secara produktif dan efisien demi mendorong berkembangnya wirausaha baru di pesantren,” terangnya.

Sementara pengasuh pesantren Miftahul Ulum KH Abdul Wasik Hanan menyampaikan ucapan terima kasih atas digelarnya pelatihan olahan jamur bagi santri pesantren.

“Mudah-mudahan pelatihan olahan jamur ini bisa bermanfaat bagi para santri pesantren. Sehingga, begitu lepas dari pesantren santri bisa membuka lapangan kerja baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Mahbub Djunaidi Mampu Ciptakan Solidaritas Sosial

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Depok, NU Online
Kolom, esai, dan karya tulis lain Mahbub Djunaidi sangat menginspirasi dan mampu menciptakan solidaritas sosial sehingga sastrawan sekaliber Ahmad Tohari pun mengaku terinspirasi oleh karya-karya Mahbub Djunaidi.

Demikian pendapat budayawan muda NU, Hamzah Sahal, dalam Bedah Novel “Dari Hari ke Hari” karya Mahbub Djunaidi di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Sabtu 19 April 2014 yang diselenggarakan Forum Alumni PMII UI.

Novel “Dari Hari ke Hari” menceritakan tentang kisah seorang anak kecil usia 12-13 tahun yang ikut ayahnya mengungsi ke Solo ketika ibukota Jakarta pindah ke Yogyakarta pada periode Revolusi Kemerdekaan 1945-1949.

Novel yang diterbitkan Pustaka Jaya ini pernah memenangkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta pada 1974, kini diterbitkan ulang oleh penerbit Surah. Menurut Kritikus Sastra Senja Bagus Ananda, sosok anak kecil dalam novel tersebut diduga adalah Mahbub sendiri.

Menurut Hamzah, Mahbub bukanlah tipe penulis yang terkagum-kagum pada budaya Barat seperti sejumlah penulis masa kini, bahkan Mahbub dengan percaya diri mengolok-ngolok budaya Barat. “Dalam novelnya tersebut, Mahbub menulis bahwa wanita Inggris yang akan melahirkan dengan terbirit-birit akan naik ke kapal Inggris yang sedang berlabuh agar anaknya tetap menjadi orang Inggris,” urai Hamzah.

Sementara itu, sejarawan UI Ivan Aulia Ahsan yang juga menjadi pembicara dalam bedah novel tersebut menambahkan, sebagai “pendekar pena”, Mahbub Djunaidi mempunyai ciri khas yang membedakannya dari penulis lainnya.

Menurut Ivan, Mahbub mampu menulis dengan kocak dan kelakar dengan menggunakan bahasa melayu pasar sebagai identitas khas kultur Betawi sehingga kolom “Asal Usul” di Harian Kompas yang ditulisnya menjadi kolom yang sangat dinantikan pembaca. Berbeda dengan esai karya Gus Dur yang serius, esai-esai karya Mahbub mampu memancing tawa pembacanya dengan sindiran yang satir dan menggelitik.

“Tidak berlebihan, bila saya katakan hanya ada dua esais di NU, Mahbub Djunaidi dan Non-Mahbub Djunaidi,” pungkas Ivan.

Mahbub, sosok Aktivis NU yang Multitalenta

Putra Mahbub, Isfandiari yang juga hadir dalam bedah novel tersebut memaparkan sejumlah kisah unik dan menggelitik seputar ayahnya, Mahbub Djunaidi. “Pak Mahbub pernah masuk penjara bersama-sama dengan Bung Tomo dan kemudian menggoda Bung Tomo yang pernah menjadi orator ulung Pertempuran 10 November 1945 ternyata harus bernasib masuk penjara di awal Orde Baru,” papar Isfandiari.

Pada acara tersebut, Isfandiari menceritakan bahwa ayahnya pernah menjadi ghostwriter bagi dirinya untuk mading di SMA-nya di Bandung. “Papa bilang ke saya, mau nggak lu jadi penulis mading sekolah, nanti gue yang nulis tapi atas nama-lu ya? Saya bilang oke dan akhirnya saya dikenal sebagai penulis top di sekolah saya,” kisah Isfandiari yang disambut tawa hadirin.

Isfandiari juga mengungkapkan kecintaan ayahnya terhadap PMII. “Suatu ketika saya bertanya pada Papa kenapa aktif di PMII, malah Papa balik bertanya kan lu sudah mahasiswa kenapa lu tidak masuk PMII?” kenang Isfandiari.

Dalam bedah novel yang dihadiri puluhan mahasiswa UI, aktivis PMII dan alumni PMII UI tersebut, Ketua Umum Forum Alumni PMII UI Alfanny menyampaikan bahwa sosok Mahbub sangat istimewa bagi keluarga besar PMII UI karena Mahbub adalah mahasiswa Fakultas Hukum UI di tahun 1960-an ketika mendirikan PMII dan menjadi ketua umum PB PMII yang pertama.

“Sosok Mahbub Djunaidi adalah sosok yang multitalenta. Beliau adalah penulis, wartawan, aktivis mahasiswa dan juga anggota DPR. Mahbub Djunaidi adalah sosok ideal aktivis PMII, walaupun beliau juga anggota DPR, beliau sosok yang bersih dari korupsi dan tidak akan nyasar dari “senayan” (gedung DPR) ke “kuningan” (gedung KPK) seperti sejumlah anggota DPR saat ini” urai Alfanny.

Alfanny menambahkan bahwa keluarga besar PMII UI menyelenggarakan acara ini untuk mengenang Mahbub Djunaidi salah satunya sebagai mahasiswa UI pendiri PMII. “Sejak PMII UI dibangkitkan kembali tahun 1990-an, baru kali ini keluarga besar PMII UI secara khusus mengenang almarhum Mahbub Djunaidi, kami sangat terinspirasi dan rindu sosok Mahbub Djunaidi, dengan acara ini kami bagaikan anak yang kembali menemukan God Father-nya,” pungkas Alfanny dalam acara bedah novel tersebut. (Red: Abdullah Alawi)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Forum Madin Jateng Susun Bahan Ajar Fiqih

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Boyolali, NU Online
Perwakilan Madrasah Diniyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti kegiatan workshop penyusunan bahan ajar mata pelajaran Fiqih Diniyah Taklimiyah Tingkat Ula, di Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah.

Kegiatan untuk angkatan pertama ini berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu (21-23/4). Salah satu peserta dari Boyolali, Choirudin Ahmad mengatakan penyusunan bahan ajar ini perlu bagi Madin.

“Selama ini bahan ajar masih didasarkan pada kebijakan madin di masing-masing daerah,” ujar pengurus madrasah diniyah pesantren Miftahul Huda Cepogo itu.

Menurutnya, adanya penyamaan bahan ajar ini dapat meningkatkan mutu pelajaran di madin, khususnya di daerah yang minim pesantren. Selanjutnya, dari penyeragaman ini juga dapat diadakan ujian bersama. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Pengurus Baru Lakpesdam NU Sulsel Dilantik

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Makassar, NU Online
Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan Anre Gurutta Muh Sanusi Baco melantik kepengurusan baru Lakpesdam NU Sulsel di aula Universitas Islam Makassar, Rabu (27/4). Acara ini sekaligus membuka jalan bagi program-program pemberdayaan yang akan digerakkan Lakpesdam NU Sulsel.

PWNU Sulsel menetapkan pengurus baru lembaga kajian yang kini dipimpin salah seorang guru besar Ekonomi Universitas Muslim Indonesia, Muhammad Natsir Hamzah.

Pelantikan ini berbarengan dengan Rapat Pleno Pemaparan Hasil Muskerwil PWNU Sulsel. Acara ini dihadiri pengurus lengkap syuriyah, tanfidziyah, dan pengurus lembaga, lajnah serta badan otonom NU Sulsel.

Didampingi Ketua PWNU Sulsel Iskandar Idy, Anre Gurutta Sanusi Baco langsung melantik jajaran PW Lakpesdam NU.

Kiai Sanusi Baco mengharapkan, “Pengurus yang baru dilantik sedianya melaksanakan tugas secara amanah dan penuh rasa memiliki.” (Andy M Idris/ Alhafiz K)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Indonesia Butuh 2 Juta Qur’an Per Tahun

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Jakarta, NU Online
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar menyatakan, Indonesia setiap tahun membutuhkan Al-Quran sebanyak dua juta dan kebutuhan yang demikian besar itu hingga kini belum juga dapat terpenuhi.

Tingkat kerusakan sebuah buku, bergantung pada perawatan dan seringnya digunakan. Semakin sering dibaca, potensi sebuah buku akan rusak atau sobek akan semakin besar. Demikian halnya dengan Al-Quran, kata Nasaruddin Umar saat menerima perwakilan Komunitas One Day One Juz (ODOJ) di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu (23/02).

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, wajar jika kebutuhan Al-Quran di Indonesia sangat besar. Setidaknya dibutuhkan tidak kurang dari dua juta Al-Quran dalam setiap tahunnya.

Tingkat kebutuhan Al-Quran di Indonesia belum terpenuhi. Tidak ada buku atau produk cetakan yang bisa mengimbangi jumlah pencetakan Al-Quran, tegasnya. 

"Bahkan, di Amerika, best seller-nya adalah Al-Quran," ia mengatakan. 

ODOJ adalah komunitas yang bertujuan mengakrabkan umat Islam kepada Al-Quran dengan merutinkan tilawah satu juz per hari, dengan memanfaatkan teknologi informasi. Sekarang ini, komunitas ODOJ tercatat mempunyai anggota mencapai 92.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, Australia, Hongkong, Qatar, USA, Jepang, Jerman, Turki, dan Singapura.

Setiap anggota ODOJ dikelompokkan dalam satu grup blackberry messenger (BBM) atau whatsapp messenger (WA) yang beranggotakan 30 orang. Dengan begitu, setiap hari mereka bisa berbagi juz antar anggota grup masing-masing untuk menghatamkan Al-Quran.

Tingkat kerusakan sebuah buku, bergantung pada sejauh mana keterpakaiannya. Semakin sering dibaca, potensi sebuah buku akan rusak atau sobek akan semakin besar, ia menegaskan lagi.

"Buku yang tidak dibaca itu tidak robek. Tapi buku yang robek adalah buku yang sering dibaca. Al-Quran banyak dibaca," terang Wamenag.

Dikatakan Wamenag, kebutuhan Al-Quran di Indonesia sangat tinggi karena banyak dibaca. Semakin sering dibaca, semakin banyak cetakan Al-Quran yang rusak, apakah karena sobek atau sebab lainnya.

"Perlu Al-Quran banyak karena semakin sering dibaca, tingkat kerusakan cetakan Al-Quran juga semakin tinggi. Itu yang membuat kita butuh Al-Quran 2 juta per tahun," kata Wamenag.

"Demikian juga dengan Al-Quran terjemahan. Sekarang ini seperti pisang goreng dijual di toko buku," imbuhnya sembari menambahkan bahwa dalam event Islamic Book Fair, buku yang paling digemari adalah Al-Quran.

Wamenag menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif komunitas ODOJ. Wamenag menyarankan agar aplikasi yang dibuat tidak terbatas pada BBM dan WA, tetapi juga bisa memudahkan semua pengguna handphone.

Produk ini juga harus bisa masuk pada seluruh lapisan masyarakat, dari yang paling bawah sampai yang paling atas, bahkan sampai Presiden, saran Wamenag.

"Al-Quran itu bisa memberikan kepuasan bagi masyarakat bawah, dan pada saat yang sama juga bisa memberi kepuasan pada masyarakat tingkat khawasul-khawash," pungkasnya.

Oleh perwakilan ODOJ, Wamenag didaulat menjadi penasihat dan diharapkan kehadirannya pada launching ODOJ yang rencananya akan dilaksanakan pada awal Mei 2014 di Masjid Istiqlal. (antara/mukafi niam)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Abdul Qodir Pimpin Ansor Mranggen

April 23, 2014 NU Online Comments Off

[WizardRSS: unable to retrieve full-text content]

Demak, NU OnlinePimpinan Anak Cabang gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Mranggen Demak Jateng Ahad (20/4) lalu telah menyelenggarakan Konferensi Anak Cabang bertempat di pesantren Ibrihimiyyah Suburan Mranggen Demak.

Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Aktualisasi Khittah 1926

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Oleh KH MA Sahal Mahfudh
Hampir semua eksponen NU sibuk memasyarakatkan Khittah 26, pada masa antara pasca-Muktamar NU ke-27 sampai dengan Pemilu 1987. Pada tahap sosialisasi hasil muktamar itu kesibukan beragam, terutama berkisar pada pembicaraan butir-butir yang berkenaan dengan hubungan antara NU dan OPP (organisasi peserta pemilu). Belum adanya kesiapan wawasan politik yang luas di kalangan warga NU, sempat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda terhadap makna khittah dan penjabarannya secara utuh.

Ini masih ditambah dengan interes-interes pribadi maupun kelompok yang hanya melihat konstelasi politik dari satu sisi sesuai dengan dorongan kepentingan yang telah dirancang strateginya. Akibatnya muncul ketimpangan pandangan dan wawasan politik, tercermin dari berbagai konflik dan benturan reaksi individual mau pun kelompok selama proses Pemilu 1987.

Dampak macam itu sudah Sejak semula diperhitungkan dan diantisipasi sebagai suatu yang wajar terjadi pada masa transisi. Setiap transisi menuju perubahan, hampir dipastikan mengandung gejolak. Apalagi bagi NU yang kaya akan politisi. Ha1 itu tidak mudah diredam begitu saja, tapi hanya dapat dibendung dengan memperkecil atau mempersempit dampak negatif. Masa transisi harus dilalui dengan segala implikasinya. Tanpa melalui masa itu, NU tidak akan mampu menampilkan eksistensi dirinya yang akomodatif dan integratif di tengah-tengah perkembangan masyarakat.

***

Secara rasional, Khittah 26 yang salah satu butirnya membebaskan warga NU menyalurkan aspirasi nasbu al-imamah melalui salah satu partai politik, menunjukkan adanya starting point (titik awal) bagi tumbuhnya kesadaran berdemokrasi Pancasila secara lugas. Meskipun diakui, masih ada kebingungan kecil di kalangan awam yang memang terbiasa mengikuti panutannya, namun Khittah memproses tumbuhnya kesadaran berpoliitik secara struktural mau pun kultural. Kemudian akan menyusul pula kesadaran berbangsa dan bernegara secara dinamis dan plural.

Pemilu 1987 telah berlalu, mengantarkan bangsa Indonesia ke tingkat lebih maju dan lebih dewasa di bidang politik, sekaligus di bidang keamanan dan ketertiban. Pemilu yang lalu dapat berlangsung aman dan tertib, tanpa rasa resah dan gelisah. Insiden kekerasan tidak menonjol seperti halnya terjadi pada Pemilu 1982.

NU pasca Muktamar Situbondo berarti telah melalui masa transisi yang paling rumit dan rawan. Ini tidak berarti bahwa NU telah selesai secara total menjalani masa transisi. Masih perlu waktu cukup panjang, untuk mengubah wawasan warga NU kepada orientasi Khittah 26. Dari aspek politik saja, perubahan wawasan itu belum merata. Padahal aspek-aspek lain yang dihadapi makin beragam. Semuanya memerlukan jawaban dalam bentuk ikhtiar kerja nyata. Bila tidak segera dipikirkan, akan makin sulit mencari alternatif pemecahannya.

Menurut ukuran waktu, NU pasca Muktamar Situbondo memang sudah setengah periode lebih sampai saat ini. Suatu waktu yang relatif lama atau panjang. Namun sesuai dengan watak masa transisi NU pasca Pemilu masih perlu membenahi diri. Bahkan sekali lagi masih diperlukan reorientasi pada Khittah 26 secara tuntas, untuk lebih mengarah pada aplikasi program hasil muktamar Situbondo dalam kenyataan sosial yang berkembang, utamanya warga NU sendiri.

Pendalaman Khittah 26 untuk menumbuhkan kesamaan persepsi dan wawasan yang luas di kalangan warga NU, dengan demikian tidak dapat ditawar lagi. Bagaimana NU sebagai organisasi kemasyarakatan, sebagai organisasi keagamaan Islam Aswaja dengan pendekatan mazhab dan sebagai organisasi (bukan hanya gerakan murni [mahdlah] atau sebagai subkultur), perlu dikaji lagi berdasar Khittah 26. Bagaimana pula sikap kemasyarakatan NU dalam berbangsa dan bernegara dipahami dan disosialisasikan sesuai dengan Khittah 26, agar warga NU mempunyai sikap akomodatif dan integratif, yang bermuara pada kemampuan berintegrasi secara nasional. Keberadaan NU di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini, dengan demikian selalu aktual.

NU di semua jajaran, dengan berorientasi pada Khittah 26 harus mampu melihat kenyataan yang berkembang dan melihat jauh ke depan dengan analisis antisipatif. Lebih penting lagi, ia harus mampu mengkonsolidasi diri sebagai organisasi dan mengidentifikasi potensi yang dimiliki.

Kiranya cukup banyak potensi yang dimiliki NU. Dari sisi kuantitas dengan jumlah warga dan simpatisannya yang begitu banyak dan tersebar hampir di semua sektor kehidupan, merupakan potensi yang tidak kecil. Dari sisi kualitas secara umum, sumber daya manusia profesional sudah mulai banyak tumbuh. Tenaga motivator baik dengan keterampilan tabligh, dakwah, mau pun dengan wibawa serta pengaruh para ulama dan kiainya, juga merupakan potensi yang tidak asing

lagi dan sangat diperlukan. Lembaga pendidikan NU, pesantren, madrasah dan perguruan tinggi begitu sulit dihitung secara konkrit karena banyaknya.

Pada bidang ekonomi, dari pengamatan global secara hipotesis bisa dikatakan, persentase warga NU yang ada pada garis ekonomi menengah lebih banyak. Potensi itu justru mudah dikembangkan untuk menunjang peningkatan taraf hidup masyarakat yang berekonomi lemah.

Sedangkan untuk menghadapi transformasi kultural, NU memiliki daya tangkal yang tangguh menghadapi pengaruh budaya luar, untuk melestarikan budaya nasional dan kepribadian bangsa Indonesia. Potensi dimaksud adalah ajaran dan nilai-nilai Islam Aswaja yang memang tidak bertentangan dengan falsafah bangsa dan negara, yaitu Pancasila.

Masalahnya sekarang, mampukah NU mendayagunakan potensi-potensi tersebut dengan pengorganisasian dan dengan kemampuan manajerial yang strategis, terpadu, utuh dan lumintu secara maksimal untuk kemaslahatan umat? Apalah artinya potensi sebagai potensi bila tidak diupayakan daya manfaatnya secara operasional? Untuk mendayamanfaatkan potensi-potensi itu tidak mungkin dilakukan hanya dengan cara sporadis dan alami. Namun diperlukan keterampilan manajerial, pengorganisasian yang bisa memproyeksikan suatu program rintisan yang aktual dan kontekstua1 bagi kemaslahatan umat dan warga NU.

Kemampuan memaksimalkan potensi diri itu, disebut dengan istilah "aktualisasi diri". Aktualisasi diri bagi NU berarti "Aktualisasi Khittah 26" secara utuh dan terpadu. Untuk itu diperlukan perencanaan dan pentahapan yang semuanya harus jelas strateginya, tujuannya, metode dan pendekatan masalahnya. Suatu sistematisasi proses interaksi dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada aktualisasi diri NU, untuk mencapai kemaslahatan masyarakat, perlu diupayakan secara kongkrit dan realistis.

Sistematisasi itu sekurangnya dimulai dari diskripsi masyarakat desa (warga NU) secara utuh dari aspek-aspek budaya, pendidikan, ekonomi alam, masalah yang terjadi kini dan esok, sekaligus mengidentifikasi potensi yang ada serta kemungkinan penggalian potensi baru. Baru kemudian merencanakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang didukung oleh potensi dimaksud. Penentuan alternatif yang paling mudah dan tepat sasaran akan memperlancar suatu upaya penyelesaian masalah. Namun begitu, akan masih tergantung pada rencana berikutnya, yaitu teknis operasional yang menyangkut metode pendekatan dan tenaga pengelolanya.

Bila semua yang tersebut di atas sudah dapat dilakukan, barulah menyusun program secara konseptual, yang mesti ditindaklanjuti dengan langkah yang kongkrit. Suatu program konseptual yang tidak didukung oleh sistematisasi proses interaksi dari serangkaian kegiatan seperti di atas, biasanya sulit diproyeksikan dalam bentuk yang kongkrit. Akhirnya program itu hanya bersifat utopis atau hanya merupakan daftar keinginan.

Untuk mengaktualkan Khittah 26, tentu saja diperlukan keutuhan, keterpaduan potensi semua eksponen dalam NU, setelah lebih dahulu ada kesamaan persepsi dan wawasan Khittah. Dalam hal ini disadari atau tidak, pada masing-masing eksponen NU pasti mempunyai kelebihan dan sekaligus kekurangan sebagaimana fitrah manusia itu sendiri. Tidak ada yang mempunyai kelebihan atau kekurangan absolut. Tidak seharusnya, ada yang menghargai dirinya lebih daripada semestinya. Begitu pula di dalam menghargai orang lain. Oleh karenanya, tidak terjadi di kalangan NU, adanya kesenjangan antara kelompok profesi tertentu dengan profesi lain. Ulama dan kiai NU bersama kelompok cendekiaiwan NU (non-Ulama) harus bekerja sama dan saling berdialog secara lumintu dan menyatu dalam mengaktualisasikan diri, mengingat luasnya permasalahan yang dihadapi NU dan warganya.

Satu di antara sekian identitas ulama Aswaja (NU) menurut Imam al-Ghazali, adalah "peka terhadap ke maslahatan makhluk". Ini berarti bahwa para ulama NU harus mempunyai kepekaan sosial yang tinggi. Tumbuhnya kepekaan sosial itu sendiri memerlukan proses, tidak tumbuh secara otomatis. Namun diperlukan wawasan yang jeli tetapi luas.

Untuk itu diperlukan sekurang-kurangnya informasi dan pengertian tuntas tentang makin luasnya perkembangan sosial. Untuk menunjangnya, perlu berbagai disiplin ilmu, bukan saja dalam lingkup ilmu sosial, namun juga meliputi ilmu-ilmu lain yang lebih luas lagi. Karena semua sektor kehidupan masyarakat maju atau yang sedang berkembang seperti di Indonesia, satu dengan yang lain -meskipun dapat dibedakan menurut diferensiasinya- tidak bisa dipisah-pisahkan. Semuanya saling menunjang dan melengkapi, bahkan satu dengan lainnya berada pada garis lingkar balik yang sulit dipotong.

Di sinilah, kerjasama antara ulama dan cendekiawan NU di satu pihak dan dengan umara' (plus ABRI) dan lembaga swasta yang lain mutlak diperlukan, meskipun masing-masing berada pada posisi yang berbeda. Apalagi NU dalam mengaktualisasikan Khittah 26 itu, berarti melakukan upaya kemaslahatan umat yang berakhir pada titik optimalnya, sa'adatud darain.

 

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat majalah Aula edisi No.8 Tabun IX, Oktober 1987, dengan judul asli "Aktualisasi Khittah 1926 Pasca Pemilu 1987".



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Abu MUDI Resmikan Pengajian Warga Aceh di Malaysia

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Aceh, NU Online
Abu, Pemimpin Mahad Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI), Mesra Samalanga, Aceh meresmikan pengajian Tastafi Al-Aziziyah, pengajian warga Aceh di Malaysia, Selasa (22/4) malam. Pengajian ini diadakan di Zawiyah Al-Asyi, tempat perkumpulan warga Aceh di kawasan Kajang, Selangor, Malaysia.

Abu MUDI menekankan pentingnya belajar ilmu kepada seorang guru. Di samping itu, Pimpinan MUDI Mesra yang juga ketua HUDA ini menjelaskan “Saat ini pendidikan lewat jalur akademik juga diperlukan untuk menghadapi tantangan global.”

Pengajian yang telah berlangsung selama dua tahun diasuh oleh Ustaz Husni Harun, alumni Darussalamah Al-Aziziyah yang kini mengajar di German Malaysia Institut (GMI), Malaysia.

Awalnya pengajian ini digagas pada rapat perayaan maulid 2012 lalu sebagai ajang mempererat persaudaraan dan menambah khazanah ilmu pengetahuan agama.

Pada saat kesempatan itu, Abu MUDI dan tim zikir maulid diundang untuk mengisi perayaan maulid di tempat ini. Forum ini lalu digelar rutin setiap Selasa dan Kamis malam.

“Peserta pengajian adalah warga Aceh dan mahasiswa Aceh di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) yang bernaung di bawah Badan Kebajikan Mahasiswa Aceh (Bakadma),” kata seorang mahasiswa Aceh di Malaysia, Sabiran Abubakar.

Pengajian ini juga dihadiri mahasiswa dari German Malaysia Institut (GMI) dan tokoh Aceh di Malaysia seperti H Nasir, H Mansur dan lain-lain.

DR Muhammad Sabri, dosen teknik GMI selaku dewan pembina pengajian ini mengatakan, “Pengajian kitab Jawi ini adalah warisan endatu yang patut dilestarikan. “Dalam kitab jawi klasik ini terdapat banyak khazanah ilmu, tidak hanya tentang kajian keislaman, tetapi juga di bidang teknologi yang saya tekuni.”

Sedangkan ustaz Husni Harun menjelaskan pentingnya pendidikan agama yang berlandaskan kepada ahlussunnah waljamaah dalam bidang aqidah dan mazhab empat dalam bidang fikih. Menurut Husni, dalam hal ini kitab klasik menawarkan bahasa yang sederhana dan logika pembahasan yang mudah dipelajari. (Tgk H Muhammad Iqbal Jalil/Alhafiz K)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

KMNU UGM Peringati Harlah ke-13 di Panti Aushan

April 23, 2014 NU Online Comments Off

Sleman, NU Online
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Gadjah Mada mengadakan bakti sosial dengan santunan di Panti Asuhan Ghifari, Dusun Relokasi, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan sebagai peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-13 yang berlangsung Jumat-Sabtu (18-19/4) tersebut dirangkai dengan pengajian umum dan motivation training.

Pada sesi motivation training, salah seorang mahasiswa berprestasi UGM, Birrul Qodriyah, bercerita.“Dulu saya pernah makan nasi aking selama beberapa hari berturut-turut,” katanya di hadapan tiga puluhan penghuni panti asuhan.

Namun, kini mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan FK UGM yang terpilih menjadi salah satu mahasiswi terinspirasi tingkat nasional tersebut bersyukur telah berhasil mewujudkan impian untuk kuliah di UGM.

Hamim Tohari, PJs Ketua KMNU UGM, pada sambutannya berharap, harlah ke-13 KMNU UGM dapat semakin istiqomah dalam melestarikan dakwah dan tradisi Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) di lingkungan UGM.

“KMNU UGM juga dapat menjadi wadah berkumpul dan bersilaturahim bagi seluruh warga Nahdliyyin di kampus UGM,” lanjut Hamim, mahasiswa FMIPA UGM semester enam ini.

“Dengan adanya acara bakti sosial ini, kami juga ingin berkontribusi dan berbagi ilmu kepada adik-adik dan masyarakat setempat”, kata Apri Nurhayati Syarifah, Ketua Panitia Bakti Sosial.

Di akhir acara, diadakan pengajian umum yang dihadiri puluhan masyarakat sekitar. Ustadz Ahmad Rahma Wardana yang menjadi narasumber menekankan pentingnya mengetahui dasar agama sebelum kita menyebarluaskannya.

“Diam adalah jalan keselamatan daripada menyebarkan sesuatu yang tidak kita ketahui dasarnya,” tutur eks Ketua KMNU UGM periode tahun 2009-2010 ini. (Mukhanif Yasin Yusuf/Abdullah Alawi)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Wordpress | rfid blocking wallet sleeves

Upcoming Events

Polls

Bagaimana Situs Kami?

View Results

Loading ... Loading ...

Diskusi Terakhir (forum)

Artikel LPTNU

Mahasiswa STAINU di Maroko Diskusi Krisis Timur Tengah

Kenitera, NU OnlineMahasiswa STAINU Jakarta yang sedang mengikuti kelas internasional di Universitas Ibnu Tofail Kenitra, Maroko tidak menyiakan-nyiakan kesempatanya untuk mengadakan kegiatan-kegiatan ilmiah.Kamis (3/4) kemarin di Wisma Mahasiswa STAI…

LPBI NU Perkuat Kelembagaan Kebencanaan di 8 Kabupaten

Surabaya, NU OnlineUntuk menguatkan kelembagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai aktor utama penanggulangan bencana, Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dengan dukungan…

Soal Membaca, Gus Dur miliki kekuatan luar biasa

1351738727

Kudus, NU OnlinePresiden keempat RI KH.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki kekuatan membaca yang luar biasa. Gus Dur adalah  sosok tauladan yang mampu menjadi inspirasi dalam pengembangan  nilai-nilai karakter.

95 Persen Situs Berusia 1000 Tahun telah Dihancurkan

1351750902

Jakarta, NU OnlinePara pecinta warisan sejarah Islam dan sebagian warga lokal Saudi Arabia terkejut dengan banyaknya warisan sejarah di Makkah dan Madinah yang telah dibuldoser,

Mengenal Almarhum KH Cholil Bisri

1351669648

Kiai Cholil Kiai NU dari Jawa Tengah yang sangat disegani. Dalam dirinya terdapat sosok seorang yang bukan hanya benar-benar kiai, tetapi juga penulis, politisi, dan sekaligus seorang sufi. Keluarga besarnya adalah kiai-kiai besar dan para penuli…

Berita NU Online

100 Santri Dilatih Mengolah Jamur Tiram

Probolinggo, NU OnlineSedikitnya 100 santri dari empat pesantren belajar mengolah jamur tiram di pesantren Miftahul Ulum desa Jatiurip Krejengan, Probolinggo, Rabu (23/4). Ditemani Dinas Perindustrian dan Perdagangan Probolinggo, mereka mencoba membuat…

Awali Lakmud, IPNU Jakbar Gelar Lomba Cerdas Cermat

Jakarta Barat, NU OnlinePimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jakarta Barat menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) yang diawali dengan lomba cerdas cermat PD/PRT IPNU, Senin-Selasa (21-23/4). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anak cabang pelaja…

Mahbub Djunaidi Mampu Ciptakan Solidaritas Sosial

Depok, NU Online Kolom, esai, dan karya tulis lain Mahbub Djunaidi sangat menginspirasi dan mampu menciptakan solidaritas sosial sehingga sastrawan sekaliber Ahmad Tohari pun mengaku terinspirasi oleh karya-karya Mahbub Djunaidi. Demikian pendapat buda…

Pengurus Baru Lakpesdam NU Sulsel Dilantik

Makassar, NU OnlineRais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan Anre Gurutta Muh Sanusi Baco melantik kepengurusan baru Lakpesdam NU Sulsel di aula Universitas Islam Makassar, Rabu (27/4). Acara ini sekaligus membuka jalan bagi program-program pemberdayaan yang…

Forum Madin Jateng Susun Bahan Ajar Fiqih

Boyolali, NU OnlinePerwakilan Madrasah Diniyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti kegiatan workshop penyusunan bahan ajar mata pelajaran Fiqih Diniyah Taklimiyah Tingkat Ula, di Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan Kantor Wilayah Kementeri…

Komentar Pembaca

  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in and view the post's comments. Ther...